Home
PIP PKS Malaysia
DPR Kecam Serangan Israel, Minta PBB Turun Tangan PDF Print E-mail
Monday, 31 May 2010 12:52

Serangan terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berlayar menembus blokade Israel menuju Gaza mendapat kecaman DPR. Anggota Komisi I DPR Almuzammil Yusuf meminta pemerintah Indonesia segera mengambil tindakan dengan meminta PBB bersikap atas kasus ini.

"Pemerintah kita harus menekan PBB untuk memaksa Israel melakukan diplomasi dengan Palestina dan menempuh jalur perdamaian. Karena tidak ada lagi yang bisa menghentikan Israel kecuali Amerika," kata Muzammil kepada detikcom, Senin (31/5/2010).

Menurut politisi PKS ini, pertemuan SBY dengan Presidan AS Barrack Obama harus dimanfaatkan juga untuk membahas masalah konflik Israel-Palestina. Apalagi beberapa waktu lalu SBY sudah bertemu dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas.

"Pemerintah Indonesia harus menyampaikan semangat perdamaian untuk Palestina langsung ke PBB dan Presiden AS. Pertemuan dengan Obama dalam waktu dekat harus dimanfaatkan pemerintah Indoensia untuk mendesak AS menengahi konflik Israel dan Palestina," pintanya.

Anggota Komisi I DPR ini menilai penembakan kapal misi kemanusiaan sudah sangat melanggar HAM. Karena itu semua kekuatan negara Islam harus bersatu menghadapi Israel dengan berbagai cara dan daya yang dimiliki.

"Israel sudah terlalu sering melakukan kejahatan kemanusiaan. Jangankan kapal misi kemanusiaan, rumah sakit dan sekolah saja mereka bom. Kejahatan Israel terus-terusan sekalipun ganti Perdana Menteri. Negara Arab seharusnya bisa memaksa Israel," jelasnya.

Sumber: detikcom 31/05/2010

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
Kasus Misbahkun Bersifat Pribadi PDF Print E-mail
Wednesday, 28 April 2010 10:02

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq mengatakan, masalah hukum yang membelit anggota DPR dari partainya, Mukhamad Misbahkun bersifat pribadi.

"Ini kan masalah pribadi. Jangan mencampuradukkan masalah pribadi dengan organisasi," katanya usai menjenguk Misbahkun di Rutan Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (27/4) sore.

Luthfi mengatakan, kasus yang menimpa kadernya itu terjadi sebelum Misbahkun masuk ke PKS dan menjadi anggota DPR.

Namun begitu, karena Misbahkun adalah kader PKS maka PKS memberikan dukungan moril kepadanya dalam menghadapi proses hukum. "Silahkan proses hukum berjalan seperti mestinya," ujarnya.

Luthfi menghormati upaya polisi yang saat ini sedang menangani kasus itu.

PKS, katanya, sangat menghargai bentuk simpati dan empati yang disampaikan anggota DPR dari berbagai fraksi yang kini terus bergulir.

Menurutnya, PKS belum mengambil sikap atas status Misbahkun sebagai anggota DPR sebelum ada keputusan hukum bersifat final. "Statusnya kan tersangka. Bisa saja nanti statusnya berubah. Dia kan belum dinyatakan bersalah. Orang yang diadili saja bisa bebas kok apalagi baru tersangka," ujarnya.

Terkait dengan kondisi Misbahkun, Luthfi menegaskan, bahwa kolega partainya itu sehat saat menjalani penahanan di Rutan Mabes Polri.

Selain Luthfi, sebanyak tujuh anggota DPR asal Fraksi PKS juga telah menjenguk Misbahkun sepanjang hari ini.

Anggota DPR dari F PKS Nasir Jamil mengatakan, tindakan Polri yang menahan Misbahkun menunjukkan bahwa Polri tidak profesional.

Polri, kata Nasir, menjadikan Misbahkun sebagai tersangka hanya berdasarkan keterangan dari Robert Tantular, mantan Direktur Bank Century dan Frenky Ongko.

Misbahkun, pemilik dan pemegang saham mayoritas PT Selalang Prima Internasional dan Dirutnya Frenky Ongko menjadi tersangka karena diduga memalsukan kontrak bisnis saat mengajukan letter of credit (L/C) ke Bank Century.

Frenky telah ditahan oleh penyidik Mabes Polri dalam kasus itu.

Menurut penyidik, kontrak bisnis PT Selalang dibuat setelah L/C disetujui, padahal seharusnya kontrak dibuat sebelum LC disetujui.

Kasus itu juga menyeret Robert Tantular sebagai tersangka.

Dalam kasus pidana perbankan lain, Tantutar telah divonis lima tahun penjara. Nilai L/C yang diterima PT Selalang 22,5 juta dolar AS, namun kini tinggal 18 juta dolar AS karena Misbahkun telah mencicilnya.

 

(sumber: gatra 28/04/2010)

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 

 

 
Misbakhun Lancar Century Mampat PDF Print E-mail
Wednesday, 14 April 2010 09:40
APA langkah konkret yang diambil penegak hukum atas rekomendasi Panitia Khusus Angket Century yang sudah berusia sebulan lebih? Tidak jelas, bahkan boleh dibilang tidak ada.

Namun, di tengah ketidakjelasan nasib rekomendasi Century oleh DPR itu, ada kasus yang juga berkaitan dengan Bank Century yang semakin terang benderang karena polisi cepat bereaksi. Itulah dugaan letter of credit fiktif yang melibatkan seorang anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Misbakhun.

Dalam kasus L/C fiktif senilai US$21 juta itu Misbakhun telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya Robert Tantular yang sudah divonis dalam kasus perampokan banknya sendiri, Bank Century, sudah juga ditetapkan sebagai tersangka.

Mengapa dua kasus yang mencurigakan dari sumber bank yang sama dengan modus yang nyaris sama ditanggapi berbeda oleh penegak hukum? Rekomendasi Pansus Angket Bank Century bersumber dari keputusan rapat paripurna yang disetujui mayoritas fraksi di DPR. Ada mandat politik yang jelas dan mengikat dari rekomendasi itu.

Kasus Misbakhun bersumber dari laporan staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Andi Arief. Mengapa laporan Andi Arief lebih cepat ditanggapi daripada rekomendasi angket Century?

Tingkat kegesitan polisi yang berbeda dalam dua kasus yang menyangkut Century itulah yang kemudian menimbulkan kecurigaan. Publik curiga bahwa polisi lebih taat dan takut pada lembaga atau orang-orang istana daripada kepada DPR.

Laporan Andi Arief dan rekomendasi Century DPR memiliki bahan mentah yang sama, yaitu kecurigaan serta dokumen-dokumen yang memperkuat indikasi manipulasi. Bahkan rekomendasi Century memiliki bukti permulaan yang cukup kuat, audit investigasi BPK.

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135647/70/13/Misbakhun-Lancar-Century-Mampat

Gugatan seperti ini, tentu, tidak dimaksudkan untuk membela seorang Misbakhun. Yang dipersoalkan adalah kadar kecekatan aparat penegak hukum yang sigap untuk satu hal, tetapi untuk hal yang lain dalam kasus yang sama kok lamban.

Publik tetap menagih kapan dan bagaimana kasus Century diselesaikan. DPR merasa bahwa rekomendasi yang dimenangkan melalui pertarungan sengit dan makan waktu di dewan terancam mati tidak menentu. Padahal pemerintah sudah menyampaikan butir-butir rekomendasi itu kepada instansi penegak hukum.

Dampak dari ketidakmauan penegak hukum melaksanakan rekomendasi angket Century mulai terasa. Kemarin rapat Komisi XI dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dibatalkan karena DPR merasa rekomendasi pansus sah adanya. Dalam rekomendasi itu Sri Mulyani bersama Wakil Presiden Boediono diminta untuk nonaktif sampai kasusnya jelas.

Kasus Misbakhun menggoda kecurigaan bahwa penegakan hukum memang dilakukan dengan tebang pilih. Juga ada kecurigaan Century sengaja ditenggelamkan melalui manajemen krisis yang tebang pilih.

Yang kentara dewasa ini, Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum ternyata menjadi gudang kasus. Setiap saat kasus baru bisa diledakkan dari sana.


Sumber: Media Indonesia

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
Chanifah, S.Si, Apt: Tunggu Kejutan Dari Kami PDF Print E-mail
Tuesday, 13 April 2010 02:13

Sekitar 50 orang peserta dari berbagai elemen organisasi perempuan yang ada di wilayah Malaysia menghadiri Pelatihan Organisasi yang diadakan oleh Departemen Kewanitaan Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera wilayah Malaysia (PIP-PKS), pada hari Ahad , 11/04/2010 di Serdang, Selangor.

 

Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia (FOKMA), Islamic Moslemah Community Malaysia (IMC), Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Malaysia, dan berbagai elemen lainnya yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa, dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di wilayah Malaysia datang menghadiri acara yang digelar dari pagi hingga petang hari.

 

“Muslimah dimanapun dia berada mesti mempersiapkan diri dalam melakukan kebaikan dan mencegah keburukkan dengan cara yang terorganisir dan rapi adalah tujuan acara ini jawab Chanifah, S.Si, Apt, Ketua Departemen Kewanitaan PIP-PKS Malaysia.

 

Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara yang cukup handal dalam menyampaikan materi ke-organisasian. Salah satunya adalah Rahmat Fadhil dari Lembaga Training Trustco Cabang Aceh, yang dengan detail dan tidak membosankan memaparkan materi tentang bagaimana mengelola sebuah Event Organizer yang baik dan melakukan Komunikasi Efektif. Peserta diberikan materi yang cukup padat dan jelas tentang hal tersebut serta diselingi beberapa permainan sehingga tidak membosankan.

 

Dr. Sigit Jarot, yang saat ini menjabat sebagai Ketua PIP-PKS di negara Mahatir Muhammad itu, menjadi pembicara kedua yang memaparkan secara cerdas materi tentang Leadership. Doktor lulusan Jepang itu menjelaskan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik dengan diawali beberapa slide yang berisi kuis untuk dijawab oleh peserta. Sebagian peserta menjawab dengan jawaban yang berbeda saat kuis dilemparkan. Ternyata bukan perkara mudah untuk menjawab sebuah gambar yang sepertinya sederhana sebab dari jawaban yang dilontarkan pada peserta ternyata bisa  terlihat layak tidaknya seseorang untuk menjadi pemimpin yang baik.

 

Chanifa mengatakan bahwa acara ini juga merupakan ujung tombak dari kegiatan-kegiatan berikutnya yang akan digelar oleh Departemennya serta bertujuan untuk menjalin silaturahim yang lebih erat lagi dengan berbagai organisasi perempuan yang ada di wilayah Malaysia.

 

Beliau pun menjanjikan akan ada sebuah kegiatan besar yang akan dihelat oleh Departemennya dalam beberapa bulan lagi. Saat ditanya bentuk kegiatannya, beliau menjawab lihat saja nanti, sebab kegiatan tersebut akan menjadi kejutan bagi semua kader dan simpatisan perempuan PKS yang tersebar di negeri jiran itu.

 

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
FPKS Belum Bisa Bersikap Soal Status Tersangka Misbakhun PDF Print E-mail
Monday, 12 April 2010 18:17

Fraksi PKS DPR-RI belum bisa bersikap soal status tersangka kepemilikan Letter of Credit (L/C) fiktif yang disandang anggotanya, Misbakhun. FPKS masih menunggu laporan dari pihak terkait atas kasus hukum tersebut.

"Kita belum dapat laporan yang resmi, jadi kita tidak bisa melakukan pendalaman terhadap masalah ini. Dalam hal tidak mendapat laporan, kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Ketua FPKS Mustafa Kamal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/4/2010).

Mustafa menjelaskan, hasil laporan tersebut bisa dari pihak Misbakhun sendiri atau dari pihak yang berwajib.

Namun demikian, kata Mustafa, kajian dari tim yang dibentuk PKS sebelumnya tidak menemukan keterlibatan Misbakhun dalam dugaan L/C fiktif.

"Sejauh ini kita tidak menemukan apa-apa. Kalau yang berwajib ada temuan (baru), kita tidak tahu," kata Mustafa.

Ditanya apakah FPKS  akan menyiapkan advokasi untuk Misbakhun, Mustafa mengatakan "Ya dari awal kan kita melihat itu masalah pribadi."

Mustafa menegaskan, kasus dugaan  kepemilikan L/C fiktif ini tidak terkait dengan kapasitas Misbakhun sebagai kader PKS, anggota FPKS ataupun anggota DPR.

"Itu bisnis pribadi yang bertahun-tahun lalu," kata Mustafa.

Mustafa menambahkan, fraksi dan partai akan berpedoman  AD/ART dan peraturan perundang-undangan dalam mengambil sikap nantinya.

(sumber: detikcom 12/04/2010)

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 

 
PKS: Pemerintah Tak Boleh Campuri Kasus Misbakhun PDF Print E-mail
Monday, 12 April 2010 18:10

Wasekjen PKS Fachri Hamzah menilai kasus L/C fiktif Bank Century (kini Bank Mutiara) PT Selalang Prima Internasional (SPI) adalah kasus perdata. Fachri kecewa Polri tetap memidanakan kasus perusahaan milik politisi PKS Misbakhun ini sekalipun Bank Mutiara tidak melaporkan secara perdata.

"Jika ada dua pihak perusahaan bersengketa lalu melakukan kesepakatan maka disebut peristiwa perdata. Negara dilarang ikut campur di dalamnya sampai salah satu pihak membuat laporan," kata Fachri kepada detikcom, Senin (12/4/2010).

Fachri kecewa Polri justru menetapkan Misbakhun sebagai tersangka. Fachri menilai upaya penahanan Misbakhun adalah modus kurang baik dari penegak hukum.

"Nah, ternyata tetap dipidanakan, memang inilah modus para aparat penegak hukum yang sedang kita investigasi di komisi III terutama setelah modus ini dibeberkan Susno di Komisi III," tutupnya.

Mabes Polri resmi menetapkan Komisaris PT SPI Misbakhun sebagai tersangka kasus L/C Fiktif Bank Century. Surat izin pemanggilan pun sudah dilayangkan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

(sumber: detikcom 12/04/2010)

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)


 
Jelang Haul Gus Dur, Rombongan PKS Kunjungi Tebuireng PDF Print E-mail
Friday, 09 April 2010 21:52
Menjelang pelaksanaan haul Gus Dur, Kamis (8/4) malam, shohibul bait (tuan rumah), Gus Solah, mendapat kunjungan istimewa. Sejumlah elite DPP PKS bersilaturrahmi ke kediaman Gus Solah yang berada di komplek Pondok Tebuireng.

 

Silaturrahmi sekitar 30 menit itu bersih dari muatan dan kepentingan politik.

 

Apalagi Ketua Majelis Syuro DPP PKS, KH Hilmi Aminuddin, adalah alumni Pondok Tebuireng. Demikian dikatakan Presiden PKS KH Lutfi Hasan Ishak.

 

Bagi KH Hilmi Aminudin, kedatangannya ke Pondok Tebuireng punya nilai tersendiri. Maklum, yang bersangkutan adalah alumni pondok pesantren yang didirikan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari ini.

Kepada Gus Solah, Kiai Hilmi mengatakan, selain dalam rangka peringatan 100 hari Gus Dur, kedatangannya ke Pondok Tebuireng untuk bernostalgia. Hilmi menuntut ilmu agama di Pondok Tebuireng dari tahun 1953 hingga 1957. "Saya dulu tinggal di asrama E-7. Saat itu pengasuh pondok Tebuireng adalah KH Abdul Khaliq Hasyim. Jadi untuk masalah ilmu agama saya belajar di Pondok Tebuireng," kata Kiai Hilmi. Rombongan DPP PKS ini berada di Pondok Tebuireng sekitar 30 menit.

 

(sumber: suaramerdeka,08/04/2010)

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
Anis Matta: Legislasi DPR Harus Berbasis Riset PDF Print E-mail
Thursday, 08 April 2010 17:18

Ada tiga fungsi DPR, yaitu legislasi, anggaran, dan pengawasan. Tapi, di mata Anis Matta, hanya satu yang bergigi, yaitu pengawasan. Adapun fungsi anggaran dan legislasi, disebutnya dengan istilah tak memadai. Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini pun menawarkan beragam-ragam perombakan di Senayan. Mulai perombakan struktural hingga kultural, yang diharapkannya sebagian besar akan bisa diselesaikan oleh DPR periode 2009-2014.

Tapi, bukan fungsi DPR yang belum optimal saja yang menggelisahkan Sekretaris Jenderal PKS ini. Dalam perbincangan dengan wartawan Republika , Palupi Annisa Auliani , Anis Matta, memaparkan sejumlah soal dan agenda yang juga perlu disentuh dengan perubahan. Misalnya soal politik simbol yang perlu segera ditinggalkan. Apa dan bagaimana politik simbol --yang menjangkiti kalangan sekuler dan agamis-- yang dia maksud? Berikut petikan wawancaranya:


Sebagai wakil ketua DPR, bagaimana Anda memandang DPR sekarang. Benarkah DPR kita tidak efektif?
Dalam tataran sistem ketatanegaraan kita, DPR sebagai lembaga tinggi negara sudah mengambil porsinya sebagai pilar negara demokrasi modern yang berfungsi  checks and balances . Fungsi pengawasan DPR relatif  settle , mengembalikan fungsi keseimbangan politik secara nasional. Inilah saya kira capaian terbesar 12 tahun reformasi.

Kelemahan yang masih tersisa adalah pada fungsi legislasi dan  budgeting . Fungsi legislasi masih bermasalah pada beberapa aspek. Kualitas produknya belum memadai. Terlalu banyak produk legislasi yang tumpang tindih, tidak terintegrasi dengan baik sejak awal. Juga dari sisi kuantitasnya. Dibanding fasilitas yang dimilikinya, produk legislasi DPR masih terlalu sedikit. Pada periode lalu, misalnya, dana legislasi yang tak terserap sekitar Rp 400 miliar.

Mekanisme prosedur pembuatan UU di DPR juga secara metodologi masih kurang bagus. Pada periode lalu, mayoritas inisiatif dan draf UU dari pemerintah, sehingga DPR hanya membahas. Dalam pembahasan itu, selain pembahasan internal juga melalui  hearing dan studi banding. Tidak ada suatu pusat informasi legislasi di DPR yang memungkinkan DPR memiliki referensi kajian yang mendalam. Sehingga lebih terasa RUU-RUU adalah inisiatif pemerintah yang meminta persetujuan DPR.

Lantas, apa solusinya?
Saya mengusulkan dalam periode ini ada pusat legislasi di DPR, semacam  law center . Karena DPR adalah pemilik otoritas tertinggi dalam masalah legislasi, seharusnya semua infrastruktur legislasi ada di DPR. Sekarang sudah dalam proses, dibahas di BURT (Badan Urusan Rumah Tangga di DPR --Red). Kita ingin membangun infrastruktur legislasi DPR yang memungkinkan DPR memiliki referensi pembelajaran yang mendalam untuk melahirkan legislasi berkualitas. Dibutuhkan juga  back up perpustakaan. Ke depan, proses legislasi harus berbasis riset.

Bagaimana kesiapan anggota DPR untuk perubahan ini, terutama soal latar belakang dan kapasitasnya?
Ya, itu benar [ada masalah dengan kualitas sumber daya]. Tapi, kami sedang mengupayakan DPR melakukan kerja sama kelembagaan dengan lembaga-lembaga lain dalam proses legislasi. Sekarang sudah berjalan. Misalnya dengan universitas. Kerja sama ini relatif akan membantu kualitas. Kultur memang ada pengaruhnya, tapi dengan ada  law center di DPR, fungsi riset dilakukan  law center ini.

Setiap anggota dewan itu pada dasarnya adalah politisi. Dalam artian, dia adalah  policy maker , pembuat regulasi. Dalam posisi itu, dia adalah  public policy maker . Yang dia perlukan hanyalah menimbang kadar kepentingan publik dalam setiap  policy yang dibuat: sejauh mana kepentingan publik terwadahi.

Dengan keberadaan law center , bagaimana kedudukan staf ahli anggota DPR?
Justru akan memperkuat. Selama ini staf ahli mem-back up anggota. Harusnya, minimal setiap orang (anggota DPR --Red) di- back up empat staf ahli. Satu di bidang hukum, satu di bidang politik, satu di bidang ekonomi, dan satu lagi staf umum.

Dengan pola baru, akan ada staf pribadi dan staf riset yang kuat, didukung kerja sama.  Back up akan berlapis-lapis, sehingga anggota DPR fokus pada  public policy maker itu tadi: bagaimana regulasi berimplikasi pada kualitas kehidupan publik, berfugsi meningkatkan pertumbuhan kehidupan kita secara keseluruhan.

Bagaimana nasib praktik 'dagang sapi' dalam penyusunan legislasi kelak setelah ada law center ?
Saya kira akan berkurang dengan sendirinya. Akan habis dengan sistem baru ini. Dagang sapi dalam proses legislasi bisa terjadi manakala DPR --karena secara umum bukan inisiator-- tidak mendapat kajian mendalam dari RUU tersebut, sehingga tidak tahu dengan tepat kepentingan publik di situ. Akhirnya yang diperjuangkan kepentingan sendiri. Ketika ada mekanisme kerja sama, ada  law center , orang yang terlibat dalam proses legislasi akan lebih banyak.

Satu aspek yang juga sedang kita dorong di pimpinan dewan adalah membuka semua proses legislasi di DPR secara transparansi. Ini belajar dari kasus Century dan Cicak-Buaya kemarin yang melibatkan publik. Ketika proses legislasi juga begitu, praktik dagang sapi akan tertutup dengan sendirinya.

Bagaimana dengan Sekretariat Jenderal DPR, perlu dirombak juga?
Ini memang masih  debatable . Saya pribadi berpandangan, ke depan seharusnya DPR punya empat  office yang berfungsi sebagai  supporting office . Pertama, sekretariat jenderal yang mengurusi semua masalah administrasi. Kedua,  budgeting office . Ketiga,  law center . Keempat, perpustakaan.

Apa fungsi budgeting office ?
Menjadi pusat pengkajian anggaran di DPR. Bukan mengurusi anggaran DPR, tapi untuk pembahasan APBN dan lain-lain, memperluas fungsi Badan Anggaran.

Pola  budgeting harus diubah. Harus dibelah dua. Pertama,  personal base budget . Setiap anggota punya plafon yang diurus sendiri untuk membayar keperluannya, termasuk membayar staf ahli. Setiap anggota dewan mengelola sendiri  budget ini. Kedua,  institutional budget , dana untuk DPR sebagai institusi. Acara yang bukan personal di- handle anggaran ini.

Kira-kira akan seperti apa efek perombakan ini?
Pertanggungjawaban akan lebih merata. Pemborosan di DPR itu karena banyaknya pegawai DPR yang tak fungsional. Misalnya, dari 1.400 pegawai DPR, 600-an di antaranya tamatan SMA, yang semuanya di fungsi administrasi. Ini harus ditata. Bukan soal jumlah orangnya, tapi sisi fungsi. Dari jumlah tak terlalu besar, tapi tidak fungsional. Yang lebih banyak diperlukan DPR adalah staf ahli, bukan tenaga administrasi.

Kapan target perubahan berlangsung?
Kami sedang godok terus. Mungkin tidak semuanya [akan selesai], tapi sebagian besar [akan selesai pada DPR periode 2009-2014]. Target prioritasnya struktur, yang empat  office itu. Itu yang akan memecah fungsi-fungsi di DPR. Ini sudah dibicarakan sampai ke pimpinan Sekretariat Jenderal.

Tidak ada resistensi?
Yang dikhawatirkan oleh kebanyakan staf DPR adalah efeknya pada pemecatan. Itu tidak perlu dilakukan. Yang perlu dilakukan adalah efektivitas fungsi.

Apa tolok ukur efektivitas itu?
Selama ini fungsinya tidak definitif. Administrasi kan tak bisa diukur. Lalu, DPR juga sudah harus berorientasi  paperless . Sekarang ini semua sangat tak efisien. Makanya, ke depan mau dibuat  budgeting personal , yang pertanggungjawabannya sendiri-sendiri. Sekarang orang yang tak produktif tidak kelihatan, karena kegiatan DPR terlalu kolektif.


Anis Matta lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 7 Desember 1968. Sejak kecil dia memiliki minat baca yang besar. Bahkan, pada liburan sekolah pun diisinya dengan membaca. Dan, sebagai kesinambungan hobinya itu, memiliki perpustakaan besar kini menjadi obsesi besarnya.

Di kancah politik, Anis memilih melakukan perubahan dari dalam, berkoalisi dengan pemerintah. Cara itu dinilainya lebih efektif ketimbang berada di luar. Meski memilih berada 'di dalam', Anis menggarisbawahi perlunya sikap kritis terhadap kekuasaan. 


Bagaimana Anda memandang koalisi dan oposisi saat ini?
Selama ini kita terbiasa berpikir dalam pola politik konvensional. PKS percaya sejak awal, perubahan dari dalam itu selalu jauh lebih efektif.

Persoalan kita selama ini adalah kita terkungkung pada era --istilah saya-- politik simbol. Baik di kelompok sekuler maupun agamis, semuanya masih terkungkung di era politik simbol itu. Padahal, kalau ditanya, apa coba perbedaan tujuan bernegara dari semua kelompok itu? Keadilan dan kesejahteraan itu cita-cita bersama, dari semua agama, aliran, kelompok, dan ideologi. Apakah ada yang berbeda dalam sistem bersama demokrasi  yang dipakai untuk mencapai tujuan itu? Tidak ada juga bukan ?

Polarisasi hubungan antara masyarakat dan negara yang dalam politik kita sebut pemerintah dan oposisi kenyataannya dalam sistem kita tak pernah benar-benar berhadap-hadapan. Karena tidak ada satu kekuatan yang bisa mengontrol Indonesia secara sendiri.

Jadi?
Koalisi masih menjadi kebutuhan politik yang niscaya sampai beberapa dekade ke depan. Pola koalisi kita di parlemen seperti pola parlementer, sementara secara keseluruhan sistem kita adalah presidensial. Jadi, sebenarnya yang terjadi adalah  mix , dan itu yang mempengaruhi polarisasi pemerintah dan oposisi tak pernah efektif. Pemerintah dan oposisi akan efektif kalau partai hanya dua. Itu pun relatif.

Tren ke depan, kita akan meninggalkan era politik simbol ke era politik substansi, era politik isi. Ini saya kira juga tren global. Misalnya dalam masalah loyalitas atau akuntabilitas dalam koalisi. Publik sekarang mempersoalkan akuntabilitas.

Jadi, masyarakat kita sudah mengalami transformasi dari era politik simbol ke era politik substansi, sehingga menggunakan simbol-simbol sekularisme atau agama saja, tak akan menyelesaikan masalah. Seperti istilah 'wong cilik', itu kan terminologi simbolis yang kita tak bisa ketahui sebenarnya per definisi isinya apa. Karena itu lebih bagus kita sekarang berorientasi pada pendekatan substansial pada setiap masalah.

Bagaimana dengan tudingan bahwa PKS tak beda dengan partai lain karena akhirnya bersikap pragmatis?
Idealisme dan pragmatisme itu juga pemisahan yang tak rasional. Karena kita menerjemahkan seakan-akan keduanya berseberangan. Padahal, politik itu ada tujuan dan ada prosesnya. Karena itu, dalam Islam, fiqh itu dibagi dua: fiqh wahyu dan fiqh realitas. Mendakwahkan agama atau membawa agama ke ranah politik itu adalah bagaimana membawa wahyu ke realitas. Antara teks dan konteks tak bisa dipisah. Tujuan dan proses juga tak bisa dipisah.

Menurut saya, kita harus belajar melihat segala sesuatu seperti film. Ada prosesnya. Satu proses maju mundur dalam ranah politik adalah hal lumrah. Yang kita nilai dari satu kelompok adalah konsistensi dan trennya. Apakah tren itu tumbuh atau menurun, apakah tren itu konsisten atau tidak.

Contohnya, PKS sejak awal percaya bahwa menjadi bagian dari koalisi itu penting, karena kita bisa lebih memperbaiki keadaan dengan berada di dalam. Dan itu artinya, ketika di dalam koalisi, kami lebih mendahulukan aspek akuntabilitas. Itu kenapa PKS, misalnya, tetap bisa kritis dalam kasus Century.

Tren pertumbuhan dan konsistensi itu terlihat dalam 12 tahun umur kami di politik. Pertumbuhannya konstan dan konsistensi dalam pengambilan sikap.

Bagaimana perkembangan PKS saat ini, khususnya dalam hal kaderisasi?
Dulu, 1998, kami bikin partai dengan 33 ribu kader. Sekarang, 800 ribu kader, dengan 500 ribu di antaranya terbina. Lalu, ada juga pertumbuhan struktural yang juga sangat bagus. Kemudian, penetrasi dominasi wacana publik. Misalnya, dalam politik  charity , PKS yang pertama. Juga dalam membawa tema dunia Islam menjadi agenda bangsa, contohnya masalah Palestina. Kedua contoh itu setidaknya mengubah wajah politik kita yang keras ke arah yang lebih  soft .


Anis Matta menulis dan menerjemahkan buku yang mengangkat beragam tema. Buku-bukunya, antara lain:  Menikmati DemokrasiDelapan Mata Air KecemerlanganRisalah Pergerakan (terjemahan),  Serial Cinta , dan  Serial Kepahlawanan . ''Semua  best seller ,'' katanya. Salah satu karyanya,  Pengantar Studi Agama Islam , menjadi  textbook .

Kini, setelah menjabat sebagai wakil ketua DPR yang membuat kesibukannya di kancah politik semakin tinggi, dia tetap menulis buku. Dia sedang merampungkan sebuah buku berjudul  The Next Indonesia . Ide-idenya tentang seperti apa Indonesia ke depan. Buku ini antara lain memandang ulang nasionalisme Indonesia. ''Karena banyak ide yang diangkat sudah tidak relevan lagi. Faktor disintegrasi sudah tidak ada. Sistem kita sudah menyelesaikannya. Resolusinya sudah selesai. Karena sudah selesai, yang sekarang tidak ada adalah bagaimana mengintegrasikan Indonesia ke sistem ekonomi dan politik global. Bagaimana Indonesia mengambil  share lebih besar dalam sistem ekonomi dunia,'' paparnya.

(sumber: republikaonline, 07/04/2010)

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
PKS Nilai Sikap Tegas Mega Soal Oposisi Menarik PDF Print E-mail
Tuesday, 06 April 2010 13:22

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengapresiasi ketegasan sikap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang tertuang dalam pidato politiknya. Presiden PKS, Luthfie Hasan Ishaq, menilai pidato Megawati menarik.

"Bagus. Sikapnya menarik. Kita memberi apresiasi tehadap sikap tersebut," kata Luthfie usai menghadiri acara pembukaan Kongres III PDIP di Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Selasa (6/4/2010).

Dalam pidatonya, Megawati menegaskan tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Banyak kalangan menilai, pernyataan tersebut adalah keinginan Megawati agar PDIP ke depan tetap menjadi penyeimbang pemerintahan SBY.

"Kita menghargai sebuah pilihan, kami menghormati pilihan Ibu Mega," kata Luthfie.

Ditanya apakah karena ketertarikan sikap tersebut PKS jadi tergoda untuk bergabung dengan aliansi penyeimbang, Luthfie enggan berkomentar panjang. " Kita sudah memilik kontrak politik dengan Pak SBY," imbuhnya.

"Kita sudah menjaga yang kami pilih, demikian juga Ibu Mega sudah menjaga yang dia pilih," tutup Luthfie.

(sumber: detikcom 06/04/2010)

 

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)


 

 
PKS Dorong Pembentukan Pansus Pajak PDF Print E-mail
Saturday, 03 April 2010 20:46

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sangat mendorong pembentukan Pansus Pajak di DPR karena pendapatan negara sangat tergantung kepada sektor itu.


"Sangat terbuka. Karena pendapatan negara dari pajak hampir 60 persen hingga 70 persen APBN," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah di Gallery Kafe Cikini, Jakarta, Sabtu (3/4).

Menurut Fahri dengan membereskan pajak maka pendapatan negara bisa bertambah hingga 2- 3 kali lipat besarnya. Maka dari itu, sangat penting membuka pajak selebar lebarnya. Apalagi secara instans kasus pajak ini masuk ke jantung modus korupsi itu sendiri.

"Pajak adalah pendapatan terbesar APBN," tegasnya.

Fahri menambahkan, perlu audit investigasi apalagi kasus ini melibatkan level aparat penegak hukum melalui pemeriksaan bagaimana pajak telah disengketakan untuk negosiasi. Nantinya kata dia, DPR akan memberikan kewenangan khusus kepada BPK atau lembaga yang tidak terkait untuk melakukan investigasi menyeluruh.

“Selain itu perlu ada koneksitas pola bekerja penegak hukum. Ini penting karena mafia tidak hanya bekerja di pajak saja tapi lintas lembaga yang memberikan izin pajak,” katanya.

(sumber: inilah.com 03/04/210)

 

(ELS I PIP-PKS Malaysia I pks-malaysia.org)

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 2 of 11

Who's Online

We have 4 guests online
PIP PKS (8) Malaysia :: Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera Malaysia :: pks-malaysia.org, Powered by Joomla! and designed by WebTeam PIP PKS Malaysia.