| Intropeksi Diri di Bulan Ramadhan |
|
|
|
| Written by DHL |
| Friday, 11 September 2009 16:09 |
|
Oleh: Ust. Zakiul Fuady, Lc
(Seri Artikel Ramadhan DSW ke 7)
Allah SWT berfirman: Wahai orang orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang engkau kerjakan.
قال عمر الفاروق: أيها الناس حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوا أعمالكم قبل أن توزن عليكم وتهيئوا للعرض الأكبر ( يومئذ تعرضون لاتخفى عليكم خافية). Umar al-Faruq R.A. berkata: Wahai manusia hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, dan timbanglah perbuatan-perbuatanmu sebelum dirimu ditimbang dan bersiap-siaplah untuk hari akhir (hari dimana dinampakkan segala sesuatu dan tidak tersembunyi sesuatu apapun). Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengantarkan manusia pada belas kasih Allah SWT. yang tidak dapat dirasakan di bulan–bulan lain. Ramadhan merupakan bulan terbukanya pintu-pintu surga dan tertutupnya pintu-pintu neraka serta dibelenggunya syetan penggangu dan penghasut manusia untuk berbuat kemungkaran dan kedzaliman. Maka datangnya bulan yang mulia ini seharusnyalah selalu dibarengi dengan merenungi hari-hari dimana kita diliputi oleh dosa dan maksiat yang membuat kita jauh dari Allah SWT. Hal tersebut dapat kita upayakan dengan memperbaiki hubungan antara kita dengan Allah dengan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dan senantiasa berada di jalan yang lurus, pun hubungan antara kita dengan yang lainnya.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki berbagai keistimewaan, sepatutnya kita menyusun langkah dan rencana-rencana agar tidak kehilangan esensi yang terkandung di dalamnya. Jika pada bulan Ramadhan kita mengistimewakan hidangan jasadiyah kita dengan baik dan lengkap, maka demikian juga seharusnya dengan hidangan rohaniyah harus terpenuhi dengan baik. Bulan Ramadhan adalah bulan yang hari-harinya, malam-malamnya, jam-jamnya, menit-menitnya, dan detik-detiknya memiliki keutamaan yang tiada tara dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, apatah lagi jika diisi dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sungguh disayangkan jika bulan Ramadhan sama seperti bulan-bulan yang lain atau menjadikannya sebagai rutinitas tahunan yang sudah biasa (annual culture) bahkan menjadi adat untuk dilakukan tanpa menghasilkan pencapaian tujuan dari Ramadhan itu sendiri. Akankah Ramadhan yang kita lalui pergi begitu saja tanpa kita isi dengan nilai-nilai dan amal-amal apapun? Atau kita melewati waktu-waktunya dengan kesenangan sesaat tanpa mengisinya sedikitpun dengan ibadah-ibadah yang mempererat hubungan kita dengan Allah SWT? Hamba yang bertakwa seharusnya menyambut bulan Ramadhan sebagai bulan untuk memperbaiki diri, meraih sebanyak-banyaknya kebaikan dengan mengisi amalan yang dapat meningkatkan ketakwaanya. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin membagi tingkatan orang yang berpuasa kepada tiga tigkatan. Pertama, puasanya awam, yaitu mereka yang menahan lapar dan dahaga serta kepuasan nafsu saja mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Kedua, puasa khawas, yaitu mereka yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga menahan seluruh anggota tubuhnya dari berbuat maksiat, menahan mulut untuk mengucap kata-kata kotor, menahan telinga mendengar ghibah, dan menahan mata untuk melihat hal-hal yang diharamkan. Ketiga, puasa khawasul khawas, yaitu orang-orang yang mengikat hati dengan kecintaan kepada Allah SWT, tidak melakukan pekerjaan kecuali karena Allah SWT, senantiasa dimana saja dan kapan saja selalu mengingat Allah SWT serta membenci hal-hal yang diharankan oleh Allah SWT. Dari ketiga bagian yang dipaparkan oleh Imam al-Ghazali, perlu kita renungi lebih jauh, di tingkatan ke berapa kita berada? Akankah kita selalu berada di tingkatan pertama dari tahun ke tahun? Atau berupaya untuk merubah diri dari hari ke hari hingga menjadi hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT? Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dialah orang-orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dialah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih jelek daripada hari kemarin, dialah orang-orang yang celaka. Mencermati fenomena yang terjadi di kalangan kita dewasa ini, orang-orang banyak mencampakkan dirinya dalam kesia-siaan dan kerugian dari segala aspek kehidupannya tanpa disemai dengan intropeksi diri. Sering sekali kita melewati hari demi hari bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu begitu saja tanpa ada evaluasi dan intropeksi diri. Padahal, hanya dengan eveluasi dan intropeksi dirilah kita seseorang itu akan menjadi lebih baik. Dan orang-orang yang meninggalkan intropeksi diri akan sedih di hari yang tiada bermaknanya suatu kesedihan. Dengan meninggalkan intropeksi diri, berarti kita membiarkan syetan menguasai jiwa kita, sehingga kita diseru kepada maksiat dijauhkan kita daripada ketaatan kepadaNya, dihiasi kita dengan kebathilan dan dijauhkan kita dari amal shaleh. Maka menjadilah kita orang-orang yang lalai sehingga kita punya hati tapi tidak menggunakannya, kita punya mata tapi tidak melihat dengannya, kita punya telinga tapi tidak mendengar dengannya, dan jadilah kita seperti binatang bahkan lebih hina darinya. Intropeksi diri terbagi kepada dua, pertama muhasabah qablal ‘amal, yaitu seorang hamba merenungi terhadap suatu perbuatan apakah pada perbuatan tersebut terdapat kebajikan ataupun keburukan. Jika ia bermanfaat untuknya, maka dia kerjakan dan jika tidak mendatangkan manfaat kepadanya, maka ia tinggalkan. Kemudian dia mencermati, apakah perbuatannya itu lillahi ta’ala ataukah lil makhluq. Kedua muhasabah ba’dal ‘amal, muhasabah ini terbagi kepada tiga bagian:
Bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat bagi kita untuk memperbaiki diri karena di bulan tersebut Allah begitu pemurah dengan mengobral berbagai macam pahala yang dilipatgandakan. Seandainya Ramadhan terlewati begitu saja tanpa kita bermuhasabah, alangkah disayangkan. Padahal padanya terdapat faeadah-faedah yang tak terhingga seperti,
Itulah diantara keutamaan-keutamaan kita bermuhasabah sehingga amalan-amalan kita terutamanya di bulan Ramadhan ini menjadi lebih baik dan gelar takwa yang dijanjikan oleh Allah SWT mudah untuk kita gapai. (DSW-AD)
|
| Last Updated on Friday, 11 September 2009 16:17 |





