Home
Tabayun dalam Dakwah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 23 September 2009 12:57

Dakwah seharusnya mempertemukan kita, bukan memisahkan kita. Sama halnya dengan jama’ah da’wah Tarbiyah yang saat ini kita jalani bersama. Disinilah kita bersama-sama, beramal jama’i dalam kerangka perbaikan umat. Apa jadinya kalau kita sendiri yang berada di dalamnya tercerai-berai.

 

Kalau ini terjadi, tak ada kata selain kita kembali bercermin, kembali mengevaluasi kualitas pribadi kita, mengevaluasi kembali kematangan tarbawi kita. Saatnya kita kembali, berjabat tangan erat, saling memberi senyuman tanda kecintaan diantara kita. Bukan justru memupuk kebencian diantara kita. Jika ada hal-hal yang sekiranya mengganjal mengenai isu-isu tertentu, sikap untuk selalu tabayun (mengklarifikasi) adalah sikap bijak dan utama yang perlu kita kedepankan.

Untuk memperkokoh dakwah kita, memperkokoh barisan dakwah kita menghadapi kecenderungan persoalan yang demikian, kali ini crew Majalah Tatsqif mewawancarai seorang tokoh, seorang Ustadz sepuh dari generasi awal Tarbiyah. Beliau adalah Ustadz Ruslan Efendi (Ustadz Lani). Yons Achmad dan Mara Naek Harahap menemui beliau dirumahnya, dibilangan Bukit Duri Jakarta Timur. Berikut petikan wawancara kami;

 

Bagaimana pandangan ustadz terkait dengan tuntutan dakwah ini untuk kembali ke asholahnya?

 

Kalau ane lihat, kelompok yang selalu mengkritisi jama’ah ini masyaallah bagus-bagus kualitasnya, cuman mereka kurang tabayun. Mereka kurang sependapat kepada kebijakan, melihat sesuatu yang dirasa melenceng, belum tanya alasannya apa lantas tidak langsung menegur tapi diceritakan kepada orang lain. Padahal dalam surat al-Hujurat ayat 6 kita bisa tafsirkan kalau ada berita dicek dulu benar tidaknya. Disana disebutkan, wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya. Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. Kalau dilihat masalah-masalah ketidaksepakatan seperti ini banyak. Kuncinya adalah tabayun, mengkonfirmasi kebenarannya.

 

Salah satu yang dikritisi adalah soal gaya hidup ikhwah kita khususnya di jajaran elit yang dinilai mulai bergaya hidup mewah, tidak sederhana seperi dulu, bagaimana menurut ustadz?

 

Kalau soal gaya hidup, dalam surat al-A’raf Allah tak mengharamkan gaya hidup yang sekarang kita lihat. Yang penting caranya halal. Jadi kalau ane lihat, ini pengalaman ane, banyak ikhwah yang sekarang berkecukupan, banyak rizki itu karena mereka infaknya juga banyak. Ane tahu karena ane sering bergaul dengan mereka. Jadi kalau mau jangan ngiri lah. Misal kalau kita lihat ikhwah kita berpenampilan agak “wah” kita sudah bilang ini ikhwah “jangan-jangan, jangan-jangan”. Nggak boleh tuh. Jangan suudhon, kita harus khusnuzhon dong. Begitulah seharusnya kader dakwah itu, jangan sedikit-sedikit berprasangka buruk.

 

Kadang hal ini menjadi bahan kecemburuan sesama ikhwah, gimana ustadz?

 

Ya jangan dong, kita khusnuzhon aja. Dicek, tabayun lagi. Kalau dia begitu ya udah, soal rizki serahkan ke Allah saja. Kalau boleh ane katakan, ikhwah yang susah, tanya itu, kurang istighfar dia. Jadi ane tegasin lagi mereka yang susah hidupnya karena kurang istighfar. Kalau mau rizkinya banyak ya istighfar banyak-banyak. Ayat al-Qur’an jelas, surat 71 ayat 10-13. aku telah katakan kepada mereka, mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya dia maha pengampun, sesungguhnya dia akan menurunkan kepadamu hujan yang lebat dari langit kepadamu, dia akan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan kebun-kebun untukmu. Dan mengadakan sungai-sungai untukmu, mengapa kamu tidak takut pada kebesaran Allah. Makanya, istighfar yang banyak, sebelum subuh, berarti harus qiyamul lain lebih dahulu kan. Insyallah rizkinya banyak. Ini sudah diamalin belum, atau malah sholat udah jarang ke mesjid lagi, jarang. Evaluasi itu. Pokoknya kalau ditanya bagaimana rizki bisa cukup perbanyak istighfar. Coba itu.

 

Sekarang ini ada ikwah yang hanya mau ngaji aja, nggak mau ngomongin politik (berpolitik), bagaimana tanggapan ustadz?

 

Ya nggap papa, mau ngaji udah bagus. Nanti kalau ngaji dikasih aja selingan ayat-ayat politik, kan ayat qur’an juga, biar dia paham. Dia kan nggak ngerti politik. Kita tahu dalam Qur’an disebutkan sesungguhnya pemimpinmu hanya Allah, rasulnya dan orang-orang yang beriman dan mereka taat kepada Allah. Jadi pemimpin mengikuti al-Qur’an, ini pasangannya. Kalau kita juga mengikuti rasul sebagai pemimpin, berarti kita mengikuti sunnah. Baca surat al-Ahzab ayat 21. Berarti kita harus memiliki sebuah organisasi, sebuah partai yang didasari pada qur’an dan sunnah. Tanya tuh, ingin menjadi hizbullah atau hizbusyetan. Berarti disini kita wajib membikin partai kenapa, Ali bin Abi Thalib berkata yang hak akan terkalahkan dengan kejahatan yang terorganisir. Jadi begini, yang penting murobinya harus pinter, harus itu.

  

Kalau masih ada saja kader yang tak mau taat pada keputusan jama’ah, gimana ustadz?

 

Itu karena dia nggak tsikoh. Padahal kita wajib taat pada qiyadah (pemimpin). Jadi qiyadah itu juga bukan orang main-main, orang pinter dia. Eh, dia nggak percaya. Selevel ane nih nggak mau main curang, nggak mau makan barang haram. Apalagi selevel Ustad Hilmi Aminudin, guru ane tuh. Insyallah nggak mungkinlah berbuat yang kurang bener. Lagi-lagi kalau nggak setuju ya tabayun dong. Ane neh kalau nggak mau tabayun ya jadinya kayak kader “kritis” itu. (sambil tersenyum)

 

Jalur untuk tabayun semestinya bagaimana?

 

Tabayun sama qiyadah lah. Sama pimpinan tanya baik-baik, ngomong yang enak. Mekanismenya gampang saja, bikin janji kapan bisa ketemu. Kalau dia misalnya sibuk ya teliti dulu, aktivitasnya sedang apa. Seperti misalnya aneh neh ya, tadi sebelum ketemu antum kan ane suruh nunggu dulu soalnya ane lagi ngajar. Nah juga kudu pahamin kondisi ikhwah kita, cari waktu dan kesempatan yang tepat untuk tabayun.

 

(Saat ditemui crew Majalah Tatsqif, Ustadz Lani memang sedang mengajar beberapa santri-santrinya)

 

Sebenarnya mensikapi tuntutan kembali ke asholah dakwah itu bagaimana?

 

Asholah dak’wah itu mereka harus ikut liqo’ dong. Ngomong begitu harus ikutan liqo’ dia. Kembali ke ustadz., datengin. Ngaji lagi. Jadi bukan bikin forum-forum yang kurang bermanfaat. Ngomong asholah da’wah tapi liqo’ nggak ikut, itu mah bohong-bohoingan itu.

 

Tapi fakta dilapangan begitu ustadz?

 

Ya salah dong. Asholah da’wah ya kembali ikutan ngaji (ke ustadz). Memang kadang mad’u pada pinter-pinter sekarang, pada kritis-kritis. Ini sebenarnya tantangan besar untuk para murobi, jangan gengsi. Murobi juga harus tahu diri, kalau udah nggak sanggup ya lempar ke orang lain yang lebih punya wawasan lebih baik sehingga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan secara memuaskan.

 

Oh ya, cara menghadapi kader kritis?

 

Ya belajar, baca buku . Jujur saja kalau misalnya sudah tidak sanggup menghadapi kader yang kritis. Jangan gengsi-gengsian. Kalau gengsi jadi ribet. Kita sampaikan sesuai dengan kemampuan kita. Jawab pertanyaan dengan dalil-dalil al-qur’an, berarti harus hafal al-quran tuh (sambil tersenyum lagi)

 

Sekarang ini dukungan dakwah kelihatan sedikit merosot, apa sebabnya, apakah memang dikarenakan oleh menurunnya militansi kader?

  

Kemungkinan adanya penurunan iman. Kenapa menurun, mungkin karena banyak maksiat. Itu dia kalo liqo’nya jarang-jarang merosot tuh iman. Jangan tuh begitu.

 

Usaha apa agar militansi kembali?

 

Ini mestinya menjadi bahan evaluasi struktur. Pekerjaan rumah struktur neh. Seharusnya bikin kembali, kita ghirohkan lagi dauroh-dauroh seperti yang sudah-sudah.

  

Sekarang mengenai prospek dakwah kedepan, pandangan Ustadz?

 

Ane optimis dakwah ini akan terus berkembang. Memang sih dakwah di kampus kurang rekrutmen kurang. Struktur tuh bagiannya.

 

Diluar topik Ustadz, ada anggapan da’wah kita telah disusupi intel, tanggapan ustadz?

 

Insyallah kalau ring satu nggak lah. Kaderisasi kita sangat ketat. Cuman kalau intel ikutan ngaji banyak itu, nggak masalah. Da’wah kita terbuka kok, siapa tahu malah mereka dapat hidayah.

 

Terakhir pesan Ustadz untuk kader-kader dakwah?

 

Ane kira istiqomah saja menuju kepadanya dan istghfarlah mohon ampun kepadaNya. Begitu juga perbanyak silaturahmi, ini penting. Apalagi kader-kader dakwah yang duduk diparlemen, kudu lebih sering mengunjungi saudara-saudara khususnya ke daerah-daerah.

 

Sumber: majalah tatsqif

 

(PKS-Malaysia | pks-malaysia.org)

 
PIP PKS (8) Malaysia :: Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera Malaysia :: pks-malaysia.org, Powered by Joomla! and designed by WebTeam PIP PKS Malaysia.